For-give

Percakapan pagi ini membuat saya merenung dan melihat hidup saya sejauh ini. Udah banyak yg saya lakukan, udah banyak yg saya berikan, udah banyak yg saya capai. I just needed to open my eyes and heart so i can see.

Hampir 1 tahun saya terpuruk dan terus malah menjatuhkan diri saya sendiri. Jadi korban dari orang lain dan terutama jadi korban diri sendiri. Untuk apa? Untuk dihargai? Untuk dapat simpati? Kenyataannnya semua itu justru bukan yg saya dapatkan. Saya gagal melihat bahwa mengharapkan org lain atau apapun hanya membawa kekecewaan, dan hal ini sudah berjuta kali “ditunjukkan”. Saya gagal melihat justru ekspektasi membawa kehancuran diri sendiri yg akhirnya menghancurkan hal lain di sekelilingnya. 

Apa yg saya pikir saya mau dalam hidup saya membuat saya gagal utk bersyukur atas hidup saya dan apa yg telah saya berikan. Semua itu membuat saya jadi marah, kecewa, sedih dan bitter. Padahal banyak yg bisa saya syukuri.

Kehilangan bukan akhir segalanya, bahkan ketika kehilangan diri sendiri.

Forgive. Atau for-give.

Dia selalu ngingetin saya ttg apa yg sudah saya berikan. Memberi tanpa mengharapkan. Harapan dia cuma satu, buat saya kembali melihat kesini (sambil nunjuk ke hati), kembali ke diri saya yg sejati, yg sesungguhnya.

Sebenarnya yg perlu saya lakukan adalah melihat apa yg sudah saya berikan utk tujuan mensyukurinya. Memaafkan diri saya utk kesalahan” dan hal” yg blm saya lakukan. Memaafkan org lain juga. Menuliskannya memang lbh mudah daripada melakukan, but i’ll give it a shot anyway .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s