Pengalaman pertama: petualangan pribadi

Say yes to experiences you would normally say no to, let your life open up! #TDL

Gak pernah seumur hidup terpikir bisa naik gunung. Gak pernah berani! Hanya mengagumi hasil jepretan org lain dari perjalanan “travel” mereka. Entah apa yg mendorong saya mau lakukan ini, naik gunung padahal saya takut ketinggian.

Mungkin karena baru-baru ini mau melakukan hal-hal yg saya gak pernah lakukan sebelumnya. Dan, beruntung bertemu dengan orang-orang yg bagi saya adalah guru saya dalam “traveling”.  Saya cuma bisa terkagum-kagum mendengar kisah pengalaman mereka ini.

Perjalanan saya adalah mendaki gunung Papandayan yg terletak di daerah Garut , sekitar 75km dari Bandung, Jawa Barat. Ketinggian gunung Papandayan adalah 2.665m diatas permukaan laut. Kata beberapa orang, papandayan adalah gunung yg bisa didaki oleh pemula seperti saya karena medannya tergolong “soft atau kata teman saya yg lain ini seperti tamasya.

Anyway, setelah tertunda 2x akhirnya kami berenam berangkat dari bandung jam 4 pagi menuju garut. Perjalanan ke garut menghabiskan waktu sekitar 4 jam dengan mobil.

Setelah tiba di lokasi, mengurus administrasi di gerbang, mengosongkan kandung kemih, dan foto-foto unyu akhirnya kami berenam pun siap naik.

Ternyata saya lumayan tegang  bukan karena takut ketinggiannya tapi kekhawatiran, apa gue bisa? Apa gue bakal sampe? Apa gue bakal kuat? Dengan pertanyaan-pertanyaan itu saya terus maju biarpun bahu mulai panas mengangkat carrier saya. Setiap beberapa menit atau ketika saya ngos-ngosan saya minta berhenti, dan kami pun break. Gak lama, hanya bagi-bagi coklat, membasahi tenggorokan dan menurunkan lagi detak jantung ke normal.

Perjalanan kami naik sampai melewati pintu angin sekitar 3 jam. Bagus waktunya, kata teman saya yg anak gunung. Saya hanya diam dan melihat ke belakang, masih gak nyangka bisa juga sampe disini, di pondok salada, camping ground nya

Setelah kami menemukan spot yg pas utk tenda-tenda kami, kami mulai membongkar semua makanan dan mempersiapkan makan siang : nasi dan mackerel kaleng!🙂 Sambil menunggu makanan matang, kami pun bersantai. Begitu semua makanan siap, perut saya yg sudah kroncongan pun siap diisi! Udara mulai tambah dingin dan gak ada yg lebih nikmat dari perut yg kenyang dan teman-teman perjalanan yg menyenangkan.

Semakin sore mulai ada rombongan baru yg datang dan beberapa rombongan bersiap-siap turun. Begitu rombongan baru datang, kami pun memindahkan tenda kami agak lebih ke dalam supaya tidak terlalu dekat dengan keramaian.

Sore itu sambil kami menyeruput teh dan merokok, kami mengobrol dan menunggu beberapa teman kami turun ke pos pintu angin utk membeli telur dan tambahan air minum.

Begitu langit mulai menggelap, angin pun mulai bertiup kencang. Untungnya beberapa ranting sudah dikumpulkan untuk menyalakan api unggun malamnya.  Minuman jahe pun menghangatkan obrolan dan permainan tebak lagu sore itu.
Begitu gelap, proses menyalakan api unggun pun dimulai. Marshmallow pun ikut dibakar.. Hmm yummm manisnya meleleh di mulut dan api unggun menghangatkan tubuh kami. Kami duduk sibuk menjaga api terus menyala sambil menikmati pop mie dan marshmallow bakar untuk makan malam.

Ketika malam semakin dingin, dan api mulai memadam, kami yg perempuan duluan mulai masuk tenda untuk tidur. Setelah beberapa waktu setelah dengan penuh perjuangan mematikan api, para lelaki pun masuk ke tenda mereka. Alarm HP kami nyalakan untuk menemui sunrise besok paginya.

Jam 4.30 pagi, alarm saya pun berbunyi dan saya mulai membangunkan teman-teman saya yg beberapa ternyata gak bisa tidur semalaman seperti saya karena kedinginan. Setelah sikat gigi, kami pun mengikuti teman kami untuk mencari spot yg pas untuk mengabadikan sunrise di papandayan.

Jalur yg kami tempuh membawa kami melewati hutan mati. Saya tidak menyangka, sesuatu yg sebenarnya gersang bisa begitu cantik. Kami pun mengambil foto di sana dan melanjutkan jalan pagi kami. Begitu sampai, saya hanya bisa diam dan bersyukur, begitu menakjubkannya pemandangan di depan saya. Seolah-olah berkata, you’ve made it, Ndah! Even though you were afraid, you made it!

Setelah mengambil beberapa foto akhirnya kami memutuskan kembali ke tenda untuk sarapan dan menghangatkan tubuh kami di bawah matahari pagi. Begitu kami kenyang dengan sarapan nasi abon dan mackerel kaleng, kami pun mulai packing, bersiap-siap untuk turun.

Menuruni gunung memang terasa lebih ringan daripada naik tapi ternyata gak begitu buat saya karena jalur turun yg kami ambil adalah jalur pendaki yg lebih sempit dan curam. Sepanjang jalur ini kaki saya gemetar dan sakit karena menahan beban tubuh dan carrier. Saya juga kesal karena 2 org teman di depan mengebut di depan. Ketika kami akhirnya bertemu mereka, saya malah keserimpet jatuh dan menangis.

Saya gak tau yg teman-teman saya pikir saat itu. Tapi tangisan saya bukan karena sakit, melainkan karena takut. Hidup saya mulai terlihat depan mata. Bagaimana saya menjalaninya, bagaimana pikiran saya ttg diri saya dan orang lain, semua itu muncul. Yg terjadi, saya sebenarnya bukan marah pada 2 teman saya yg sudah duluan tapi saya marah pada diri saya sendiri.

Saya sudah marah pada diri saya selama tahun ini dan malah melemparkan kemarahan itu ke orang lain. Saya gak sanggup untuk mengatakan semua itu karena lagi-lagi saya takut akan pikiran mereka tentang saya, dan inilah ketakutan terbesar saya karena pada akhirnya saya pun ditinggalkan.

Begitu perjalanan kami lanjutkan, saya hanya bisa diam karena malu dan merenung. Bahkan sampai dibawah pun, begitu kami selesai mandi, saya memilih untuk gak banyak ngomong.

Begitu semua beres dan barang-barang yg perlu dibawa langsung pulang selesai dipindahkan, kami pun kembali menuju bandung. Perjalanan ke bandung lumayan terhenti karena macet. Kami sampai di bandung sekitar pukul 8 malam, dan saya serta 1 teman perempuan saya pun di drop di travel dan pulang ke jakarta.

Banyak pelajaran yg saya dapatkan selama trip 2 hari ini. Saya jadi melihat lagi siapa saya dan siapa orang lain. Saya melihat apa yg saya mampu lakukan, begitu pun dengan org lain. Sampai hari ini pun, saya masih terus melihat dan menarik pelajarannya.

Gak, saya gak kapok karena it made me alive. Membuat saya kembali in touch dengan hati saya dan kekuatan saya, juga menghargai hal-hal kecil yg ada dalam diri dan sekeliling saya.

Yes, I miss my loving and gentle side. My giving self. Slowly, I realized what I need is to forgive myself one day at a time first as a part of loving myself over again. Only then i’ll be stronger again.

So, thank you Alin, Ankie, Arad, Inka and Wing for this experience. Thank you for letting me have this and be with you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s