Acceptance (Menerima)

Hanya ini caranya supaya saya merubah pikiran” saya, menulis. Menulis hal” positif dgn tujuan utk punya sudut pandang dan pemikiran positif utk segala hal. Bahwa SEMUA pasti ada hikmahnya. Pasti! Pertanyaannya, mau membuka hati utk melihatnya atau tidak.

Menerima diri saya, hidup yg saya punya, orang” yg msh ada bahkan yg memilih utk pergi dari saya dan menerima semua peristiwa dlm hidup saya. Teori semua ada di kepala. Praktek msh terus dilatih.
Manusia manapun akan sulit menerima peristiwa yg mrk anggap buruk, menyedihkan, menyakitkan dan mengecewakan dlm hidupnya. Manusia manapun juga bisa mudah menerima peristiwa yg mrk anggap baik. Tapi, siapa sebenarnya yg benar” tau peristiwa itu baik atau buruk? Siapa yg sebenarnya menentukan baik atau buruknya? Berdasarkan apa menentukannya? Itu selalu berada dlm pencarian. Padahal banyak yg bilang dan percaya, bahkan saya, bahwa SEMUA pasti ada hikmahnya.
Pilihan yg ada hanyalah menerima apa yg sudah ada dan sudah terjadi. Bahwa butuh proses menerima, tapi pada akhirnya hanya itu pilihan yg ada. Pilihan yg terbaik. Karena apakah bisa merubah yg sudah terjadi? Berharap? Entahlah.

Yg saya tau, saat saya tidak menerima yg terjadi konflik antara mau tdk mau. Tapi lagi”, satu”nya yg bisa membebaskan adalah mau menerima karena ketika konflik yg terjadi kebingungan dan putus asa. Tidak bisa berfungsi. Tidak bermanfaat. Tidak bersemangat. Tidak bertujuan. Lantas buat apa? Buat apa bertahan pada sesuatu yg jelas membuat saya merasa tidak berdaya? Membuat saya merasa tidak berharga. Buat apa? Hanya menghabiskan energi dan menggerogoti jiwa. Merusak diri sendiri. Merugikan org di sekeliling saya.

Menerima adalah semuanya. Menerima bahwa saya punya hati yg mudah mencintai, dan menerima bahwa tidak semua org mau dicintai. Bukan berarti lantas saya jadi tidak layak, tapi memang sudah begitu adanya.

Menerima bahwa sampai kapanpun pendapat org akan mempengaruhi cara saya melihat diri saya. Skrg pertanyaannya, apakah mempengaruhi artinya menentukan siapa saya?

Seharusnya tidak. Yg menentukan siapa saya ya saya sendiri. Selama ini saya pikir, saya tau siapa saya, tapi ternyata ini pun sebenarnya justru jadi batasan. Kenapa saya mesti menentukan batasan siapa saya? Bukankah sebenarnya manusia diberi kemampuan utk menentukan pilihan atas hidupnya? Jadi pilihan itu sendiri tidak terhingga sebenarnya kan? Setiap saat adalah pilihan ketika benar” mau melihat. So, why limit my choices? Why must I be scared that I’m done? I’m only done the day I die.

Menerima bahwa saya masih punya pilihan dan pilihan itu tdk terhingga setiap saatnya. Bahwa semua ini blm berakhir sampai saya hembuskan nafas terakhir.
Belajar berani menerima semua. Belajar berani berjalan dari pilihan saya. Itu adalah bagian dari menerima.

Dan gpp. Saya gpp. Siapa saya gpp biarpun org mengatakan sebaliknya. Menerima diri sendiri mungkin adalah hal tersulit buat saya karena saya selalu merasa kurang bahkan merasa buruk, dan itu justru bukan menerima.
Terima diri sendiri bagaimanapun itu. Semua. Kemudian terus bergerak dan menerima yg lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s