You stopped

Advertisements

1

Hari pertama puasa.

5 bulan pertama di 2018 ini banyak bgt kejadian besar. Iya, naik turun. Roller-coaster besar yg udh lama gk gue jalani. Di satu sisi, bikin gw sakit, mual dan takut. Apakah di sisi lain jadi seru? Untuk saat ini masih belum berasa seru. Ya, mungkin momen² saat sama Dia. Itu momen menyenangkan. Momen yg gue pernah bilang sebelumnya, gak ngira bakal terjadi lagi. Gue gak nyangka bakal merasa bahagia dan semangat tiap hari seperti itu lagi setelah bertahun². Tapi, kayak semuanya di dunia. Pastinya berakhir. Mau ada penjelasan atau gak, it ends.

Keluarga pun. Well, sampai sekarang pun, gue gak akan sesuai dgn standar kelayakan sebagai anak baik atau apa pun namanya. Status gue sekarang, hanya jadi aib dan ngerepotin mereka. Sampai sekarang gue masih belum mandiri (tinggal sendiri). Mau gue bantu sedikit atau secara finansial, masih gak cukup. Tapi terus mau gimana, mesti bertahan sampai gue cukup mampu utk pergi.

Membuka hati gue lagi, menyayangi orang lain lagi, itu membuat gue ada semangat utk jalani hidup gue. Buat gue berani dan senyum lagi. Bahkan ketawa. Sekarang, gue masih ingat samar² suara dia, suara ketawanya, senyumnya yg hangat, sapa pagi nya dan ucapan selamat malam. It’s all gone. Gue tau dia melakukan itu karena berpikir perpisahan yang terbaik atau lebih baik sekarang daripada nanti. Dan seberapa pun gue masih mau denger suara dan tau kabarnya, semua tertutup. Karena, dia udah pergi. Karena dia udah melepaskan dan move on. Bahkan sampai saat ini pun, gue masih nangis kalau inget dia. Kangen bgt.

Kayak semua itu berkaitan. Kayak sampai kapan pun gue gak akan sesuai dengan standar kelayakan keluarga dan dia. Bahwa gue gak berharga. Bahwa gue gak becus. Bahwa gue gak ngerti apa pun. Bahwa gue egois. Semua hal itu terucap dan gak terucap. Dan semua itu membuat gue mual karena masih susah menerima. Iya menerima. Bahwa sampai kapan pun, orang lain akan berpikir kayak gitu. Gak ada gunanya gue melawan atau berontak atau berusaha merubah pandangan atau pikiran mereka. Gak ada gunanya. Gue hanya berakhir dengan mata sembab karena nangis terus²an. Suram karena merasa gak berharga.

Terus, mau sampai kapan gue kayak gini? Karena gak guna. Gak akan merubah apa pun dari mereka. Dia gak akan pernah balik. Jangankan balik, ngontak gue aja gak karena saking gak berharganya gue. Nerima. Itu yg perlu gue latih. Nerima kalau orang² di luar gue, bahkan yg gue sayang bgt akan selalu seperti ini. Nerima bahwa dia memilih utk ninggalin gue. Nerima bahwa, gue emang sendiri aja dgn status ini. Nerima bahwa, orang akan selalu menghakimi gue karena status gue dan pilihan gue. Bahwa orang akan berpendapat semau mereka. Bahwa gue gak akan di pilih. Nerima bahwa, gue akan sendiri. Nerima bahwa, gue gak di terima.

Sampai gue nerima, gue akan terjebak di sini. Merasa gak berharga. Merasa lebih baik gue gak ada lagi di dunia ini.

Capek nangis. Ada yang tau? Kalau pun Iya, mereka punya hidup mereka sendiri. Karena pada akhirnya, manusia, gue, akan di alam kubur sendiri nantinya.

Dan gue memutuskan, akan sendiri. Membuka hati, gue gak yakin lagi. Lebih baik gak sama sekali. Gak lagi. Karena siapa gue selalu akan jadi masalah.

Perempuan

Mungkin merasakan kehilangan dan gagal move on ini lebih karena gue ngerasa jadi perempuan. Diperhatiin, dimanja, didenger. Iya. Sesimple sapaan pagi, di tanya udh makan blom atau lagi ngapain. Kayak gt aja gue merasa berharga dan disayang. Iya. Gue suka itu. Romantisme menyebalkan. Seorang single mom yg selama ini sebenarnya gk masalah atau gk nunggu utk melakukan banyak hal sendiri, tetep seorang perempuan.

Gue gk pernah dapet perhatian kayak gitu. Jarang tepatnya. So, I’m feeling kinda lost without it. Iya, kayak ada yg hilang. Jadi candu akan itu. Tapi ya ini jadinya sekarang kan? Ketika bandar pergi, tinggalah gue yg sakaw. Tinggalah gue jadi mengais disayang dan dimanja.

Yah, cara gue melihat semua ini perlu gue rubah. Why? Karena mengorbankan diri gue, harga diri dan percaya diri gue. Berakhir dengan gue gk sayang sama diri gue. Makan gk bener, tidur gk bener. Gue udh tua. Iya. Late thirties. Ini gk merubah apa pun. Toh, Dia jg mikirin gue juga gk. Menurut Dia A, menurut gue Z. Jauh kan?

Bisa apa lagi coba? Dia jg gk mau ngomong juga.

Gue cuma bisa nyimpen perasaan ini. Bahkan gk tau mau apa abis ini. Keputusan gue utk gk punya hubungan lagi semestinya gue hormati. Karena sekarang begitu ternyata ditinggal, beginilah jadinya. Malah merusak. Gue udh nyoba, tapi hanya memperburuk. Makin gk mau tau lagi Dia. Jadi yaaaa…….. So be it. Crying every day is exhausting.

Jujur

Jujur, aku masih di sini

Dengan rasa yang sama dari pertama

Mengenggam janji sampai wisuda

Kenapa aku masih di sini?

Bahkan tak sedetik pun kamu ingat aku

Aku hanya sebuah mimpi buruk

Tak layak bahkan untuk sebuah perpisahan

Tapi untuk apa lagi?

Tak satu pun jawab selama sebulan lebih

Dan aku masih di sini

Masih berharap kamu menghadapi aku

Masih berharap kamu jujur padaku

Kenapa?

Karena kamu bilang takkan lagi jadi seperti dulu

Karena kamu bilang kamu kan berubah

Aku hanya pemicu

Kamu bertumbuh bersama yang lain

Yang kini mengukir senyummu

Tujuan ku selalu sama

Mengingatkan janjimu pada dirimu sendiri

Dan ternyata waktuku untuk itu pun sudah habis

Kamu sudah bisa sendiri, tak butuh aku seperti yang pernah kamu katakan

Tugasku selesai kalau gitu

Aku kan selalu mendoakanmu dari sini

Biarpun ku tak jadi boleh datang wisudamu

Aku sudah tahu kamu akan berhasil meraih cita-cita untuk keluargamu

Time flies, people grow apart

It’s a good thing isn’t it?

No longer a part of your journey seems to be a blessing and good for you

Jika tiadanya aku membuatmu bahagia

Membuatmu lebih banyak tersenyum

So be it

Bahagia lah, Van…